LOGO BLOG

Gambar ini merupakan logo blog komunitas ISLAM SEJATI

Slot Iklan 1

Anda ingin pasang iklan disini? info klik pada gambar!

Hukum Pacaran Menurut Islam

Janganlah kamu sekalian mendekati perzinahan, karena zina itu adalah perbuatan yang keji…” (QS. Al-Isra : 32).

Istilah pacaran yang dilakukan oleh anak-anak muda sekarang ini tidak ada dalam Islam. Yang ada dalam Islam ada yang disebut “Khitbah” atau masa tunangan. Masa tunangan ini adalah masa perkenalan, sehingga kalau misalnya setelah khitbah putus, tidak akan mempunyai dampak seperti kalau putus setelah nikah. Dalam masa pertunangan keduanya boleh bertemu dan berbincang-bincang di tempat yang aman, maksudnya ada orang ketiga meskipun tidak terlalu dekat duduknya dengan mereka.

Kalau dilihat dari hukum Islam, pacaran yang dilakukan oleh anak-anak sekarang adalah haram. Mengapa haram?

Karena pacaran itu akan membawa kepada perzinahan dimana zina adalah termasuk dosa besar, dan perbuatan yang sangat dibenci oleh Allah. Oleh karena itu ayatnya berbunyi sebagaimana yang dikutip di awal tulisan ini. Ayat tersebut tidak mengatakan jangan berzina, tetapi jangan mendekati zina, mengapa demikian ? Karena biasanya orang yang berzina itu tidak langsung, tetapi melalui tahapan-tahapan seperti : saling memandang, berkenalan, bercumbu kemudian baru berbuat zina yang terkutuk itu.

PENCEGAHAN

Dalam hukum Islam umumnya, manakala sesuatu itu diharamkan, maka segala sesuatu yang berhubungan dengan yang diharamkan itu diharamkan juga. Misalnya minum arak, bukan hanya minumnya yang diharamkan, tapi juga yang memproduksinya, yang menjualnya, yang membelinya, yang duduk bersama orang yang minum tersebut juga diharamkan.

Demikian juga halnya dengan masalah zina. Oleh karena itu maka syariat Islam memberikan tuntunan pencegahan dari perbuatan zina, karena Allah Maha Tahu tentang kelemahan manusia.

Berikut ini adalah pencegahan agar kita tidak terjerumus ke dalam perzinahan :

  1. Dilarang laki dan perempuan yang bukan mahram untuk berdua-duaan. Nabi Saw bersabda : “Apabila laki-laki dan perempuan yang bukan mahram berdua-duaan, maka yang ketiga adalah setan.” Setan juga pernah mengatakan kepada Nabi Musa AS bahwa apabila laki dan perempuan berdua-duaan maka aku akan menjadi utusan keduanya untuk menggoda mereka. Ini termasuk juga kakak ipar atau adik perempuan ipar.
  2. Harus menjaga mata atau pandangan, sebab mata itu kuncinya hati. Dan pandangan itu pengutus fitnah yang sering membawa kepada perbuatan zina. Oleh karena itu Allah berfirman : “Katakanlah kepada laki-laki mukmin hendaklah mereka memalingkan pandangan mereka (dari yang haram) dan menjaga kehormatan mereka dan katakanlah kepada kaum wanita hendaklah mereka meredupkan mata mereka dari yang haram dan menjaga kehormatan mereka (An-Nur : 30-31).
  3. Diwajibkan kepada kaum wanita untuk menjaga aurat mereka, dan dilarang mereka untuk memakai pakaian yang mempertontonkan bentuk tubuhnya, kecuali untuk suaminya. Dalam hadits dikatakan bahwa wanita yang keluar rumah dengan berpakaian yang mempertontonkan bentuk tubuhnya, memakai minyak wangi baunya semerbak, memakai make up dan sebagainya, setiap langkahnya dikutuk oleh para malaikat, dan setiap laki-laki yang memandangnya sama dengan berzina dengannya. Di hari kiamat nanti perempuan seperti itu tidak akan mencium baunya surga (apalagi masuk surga).
  4. Dengan ancaman bagi yang berpacaran atau berbuat zina. Misalnya Nabi bersabda : “lebih baik memegang besi yang panas daripada memegang atau meraba perempuan yang bukan istrinya (kalau ia tahu akan berat siksaannya). Dalam hadits yang lain : “Barangsiapa yang minum (minuman keras) atau berzina, maka Allah akan melepas imannya dalam hatinya, seperti seseorang melepaskan peci dari kepalanya (artinya kalau yang sedang berzina itu meninggal ketika berzina, ia tidak sempat bertobat lagi, maka dia meninggal sebagai orang kafir yang akan kekal di neraka).

Oleh karena itu Syekh Sharwi menggambarkan : seandainya ada seorang wanita cantik yang sudah hampir telanjang di sebuah kamar, kemudian ditawarkan kepada seorang pemuda … “Maukah kamu saya kasihkan perempuan itu untuk kamu semalam suntuk, tapi besok pagi saya akan masukan kamu ke kamar yang sebelahnya, yang penuh dengan api, apakah mungkin anak muda itu akan mau untuk menikmati tubuh wanita semalam suntuk kemudian digodok keesokan harinya dalam api?

Nah ketika kita tergoda untuk berbuat zina atau minum, coba bayangkan kalau kita meninggal ketika itu, bagaimana nasib kita? Tiada dosa yang lebih besar setelah syirik kepada Allah daripada meneteskan air mani dalam suatu tempat (kehormatan) yang tidak halal baginya. Neraka Jahannam mempunyai “Tujuh pintu gerbang” (QS. Al-Hijr : 44), dan pintu gerbang yang paling panas, dahsyat, seram, keji, dan bau adalah diperuntukan bagi orang-orang yang suka berzina setelah dia tahu bahwa zina itu haram.

Sebagaimana kita yakini sebagai seorang muslim bahwa segala sesuatu yang diharamkan oleh Allah, mesti mempunyai dampak yang negatif di masyarakat. Kita lihat saja di Amerika Serikat, bagaimana akibat karena adanya apa yang disebut dengan free sex, timbul berbagai penyakit. Banyak anak-anak yang terlantar, anak yang tidak mengenal ayahnya, sehingga timbul komplikasi jiwa dan sebagainya. Oleh karena itu, jalan keluar bagi para pemuda yang tidak kuat menahannya adalah :

  1. Menikah, supaya bisa menjaga mata dan kehormatan.
  2. Kalau belum siap menikah, banyaklah berpuasa dan berolahraga
  3. Jauhkan mata dan telinga dari segala sesuatu yang akan membangkitkan syahwat
  4. Dekatkan diri dengan Allah, dengan banyak membaca Al-Qur’an dan merenungkan artinya. Banyak berzikir, membaca shalawat, shalat berjamaah di Masjid, menghadiri pengajian-pengajian dan berteman dengan orang-orang yang shaleh yang akan selalu mengingatkan kita kepada jalan yang lurus.
  5. Dan ingat bahwa Allah telah menjanjikan kepada para anak muda yang sabar menahan pacaran dan zina yaitu dengan bidadari, yang kalau satu diantaranya menampakkan wajahnya ke alam dunia ini, setiap laki-laki yang memandangnya pasti akan jatuh pingsan karena kecantikannya. Coba anda bayangkan saja siapa menurut anda wanita yang paling cantik di alam dunia ini, maka pastilah bidadari itu entah berapa juta kali lebih cantik dari wanita yang anda bayangkan itu.

(diadaptasi dari majalah Perkawinan dan Keluarga)

HAKEKAT, TINDAKAN, DAN AKIBAT DOSA


bismillahairrohmannirrohim..
Hari ini kita bersama-sama mau mendalami tema tentang dosa. Di zaman kita sekarang ini banyak orang yang sudah kehilangan rasa takut akan dosa.
Buktinya, kejahatan semakin banyak dan mengerikan. Banyak juga orang yang tidak mau bertobat dengan melakukan dosa yang sama terus-menerus. Memang ada yang karena kelemahannya jatuh berkali-kali dalam kesalahan yang sama. Tapi, ada juga yang memang sengaja tidak mau bertobat karena tidak mau kehilangan kenikmatan yang diperoleh melalui dosanya itu.

Sebenarnya apa itu dosa? Kitab Suci tidak pernah mengaitkan dosa dengan diri kita sebagai ciptaan murni. Artinya, karena kita adalah ciptaan Allah dan kata Allah bahwa semuanya baik, sejauh kita datang dari Allah dan bersatu dengan Allah, tidak ada dosa dalam diri kita. Dosa justru muncul ketika kita menjauhkan diri dari Allah. Allah adalah kebaikan itu sendiri. Lepas dari
Allah berarti merangkul kejahatan.

Manusia dapat berdosa karena ia memiliki kehendak bebas untuk secara sadar dan otonom memilih sesuatu. Pilihan paling dasar pada manusia adalah pilihan untuk taat atau tidak taat kepada Allah. Ketika ia memilih untuk melepaskan diri dari Allah dengan kehendak bebasnya, secara sadar, sengaja, tahu, dan mau, saat itulah ia berdosa. Tindakan di sini, mencakup segala pikiran, perkataan, perbuatan, dan kelalaian.

Di sini kita melihat suatu paradoks, artinya konsekuensi yang bertolak belakang dari tindakan dosa. Ketika manusia mau membebaskan diri dari Allah, ingin menentukan sendiri apa yang baik untuknya, ia malahan terjerumus ke dalam perbudakan dosa dan hawa nafsunya sendiri. Manusia kehilangan kebebasannya justru dengan membebaskan diri dari Allah. Sebaliknya, dengan terus memilih untuk menyatukan diri dengan Allah, manusia tidak akan kehilangan kebebasannya. Seperti kata Yesus dalam Yoh 8:34: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa."

Yesus juga pernah bersabda bahwa Ia telah mencurahkan api ke dalam dunia ini dan betapa Ia mengharapkan bahwa api itu tetap bernyala (Luk 12:49). Namun, di tempat lain dengan nada sedih Ia berkata, "Jika Anak Manusia datang, adakah Ia mendapati iman di bumi." (Luk 18:8) Dalam kesedihan-Nya Yesus telah melihat ke masa depan. Ia melihat semakin lama, khususnya menjelang akhir zaman, semakin sulit orang untuk beriman kepada-Nya. Tidak usah jauh-jauh, kita sekarang sedang menjadi saksi hilangnya iman sekian banyak orang. Sudah saatnya kita sekarang untuk serius memikirkan perkara-perkara
Kerajaan Allah agar ketika Anak Manusia datang nanti, kita kedapatan setia dan berpegang pada iman.

Mengapa dalam kesempatan ini saya menekankan pentingnya iman?
Apa kaitannya dengan dosa yang menjadi tema kita hari ini? Kaitannya besar sekali, karena puncak dari dosa adalah tidak percaya lagi kepada Allah.
Manusia menolak Allah. Ia tidak mau lagi menyembah Allah. Ia mau menentukan nasibnya sendiri. Sama seperti Lucifer yang tidak mau taat lagi kepada
Allah. Lucifer jatuh karena ia mau menjadi tuan atas dirinya sendiri. Si ular tua itu tidak mau tunduk kepada Allah. Karena itulah dia kehilangan kemuliaannya dan menjadi penghuni kegelapan. Dan karena kedengkiannya dia mau menyeret sebanyak mungkin dari kita untuk mengikuti dia masuk ke dalam kegelapan kekal.

Allah adalah hidup. Menolak Allah sama saja dengan mati. Karena itulah
Paulus mengatakan bahwa sengat dosa adalah maut sebab memang bagi orang yang tidak mau lagi mengakui Allah hanya ada kematian. Kematian kekal. Bukan hanya kematian fisik biasa, namun jiwa kita akan tersiksa selama-lamanya di dalam neraka. Hanya dengan percaya kepada Kristus, mengakui Allah, kita dapat memperoleh kebangkitan untuk hidup yang kekal.

Tidak hanya itu saja. Dosa juga mengakibatkan rusaknya hubungan antarmanusia. Dosa tidak pernah membawa akibat buruk hanya bagi sang pendosa. Bahkan dosa yang dilakukan di tempat paling tersembunyi juga punya akibat buruk bagi orang lain. Mengapa? Karena setiap dari kita mengemban nama dan tanggung-jawab manusia. Apabila kita setia kepada Allah, Allah bukan hanya memandang kita yang setia, tetapi juga manusia yang setia kepada-Nya. Karena itulah mengapa orang-orang kudus memiliki peranan yang amat penting dalam dunia ini. Ketika masih ada orang-orang yang berdoa dan berbakti kepada-Nya, Allah akan selalu menjamin kedamaian dan kesejahteraan umat manusia. Hal ini bisa dibandingkan dengan kisah pemusnahan Sodom. Allah berjanji, sekiranya ada sepuluh saja orang benar di kota Sodom, Ia tidak jadi menghancurkannya. Sepuluh orang benar akan menyelamatkan kota itu dari kebinasaan. Sayang, ternyata sepuluh orang benar saja tidak ada di Sodom.
Namun, Lot dan keluarganya masih diselamatkan. Orang benar akan menyelamatkan orang lain. Sebaliknya, orang jahat juga dapat mencelakakan orang lain juga.

Para anggota milis yang terkasih, apa yang baru saja saya katakan sebenarnya sudah kita ketahui semua. Mungkin tadi Anda membacanya dengan setengah sadar dan dalam hati berpikir, "Ah, aku sudah tahu ini. Tidak perlu dengar lagi."
Tapi, sadarkah Anda betapa pentingnya hal ini? Lebih-lebih lagi sadarkah
Anda bahwa salah satu strategi paling utama dari si iblis adalah membuat
Anda terlena dan menganggap remeh dosa? Bahkan si raja segala dusta tersebut dengan lihainya menipu anak-anak Allah untuk tenggelam dalam kebiasaan-kebiasaan buruk dan dosa. Padahal jelas-jelas kata Paulus dalam Rm
14:23 bahwa segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman adalah dosa! Dan lagi, Yakobus menegaskan dalam Yak 4:17, ". jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa." Dengan segala godaan dunia zaman ini ditambah dengan kelemahan kita, kita tidak usah menipu diri dengan menganggap diri sudah suci. Yohanes dalam suratnya yang pertama jauh-jauh hari telah mengingatkan kita bahwa: "Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita." (1 Yoh 1:8)

Kita tidak boleh meremehkan dosa, tetapi terlalu keras terhadap diri sendiri juga tidak baik. Ada orang yang karena terlalu menyesali dosanya, sampai-sampai tidak mau makan sebagai tanda penyesalannya. Akibatnya, ia sakit dan menyusahkan keluarganya. Ada pula yang sangat sedih sampai akhirnya menjadi putus asa. Contoh paling tragis dalam Kitab Suci adalah
Yudas Iskariot. Ia memang sangat menyesal atas kesalahannya menyerahkan
Yesus. Begitu menyesalnya dia sehingga akhirnya bunuh diri. Padahal sebenarnya kesalahannya tidak lebih berat daripada kesalahan Petrus yang menyangkal Yesus sampai tiga kali. Bedanya, Petrus menyesal dan bertobat, memohon ampun kepada Tuhan.

Meskipun telah melakukan dosa berat sekalipun, kita tidak boleh putus asa.
Kerahiman Tuhan mengatasi segala dosa. Asalkan kita mau bertobat, seperti dikatakannya dalam Yes 1:18, "Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba."

Indonesia Malaysia dari sisi lain

Melihat beberapa kasus belakangan ini dan beberapa postingan dari rekans blogger lain *gak perlu di sebutkan* aku tertarik untuk menuliskan pendapatku sendiri dari sisi lain. Beberapa rekan mengutuk habis habisan malaysia, ada yg menyebutnya Malingsia, Malesa, Malasial dll bahkan ada yg memplesetkan “Visit Malaysia” menjadi Visit Malingsia – Trully Maling Asia.

Postingan disini semata hanya melihat dari salah satu sisi.. bukan membela salah satu negara. bangsa atau kaum saja. Dan postingan disini lebih ke arah Instropeksi diri. Pertama mari kita lihat kembali beberapa hal yg dianggap merugikan bangsa ini. Saya tidak akan berhitung dengan statistik dan prosentase, karena saya tidak punya data yang akurat, saya hanya mau membahas dari sisi hati dan logika saja.

1. Hilangnya pulau Sipadan dan Ligitan dari Indonesia yg direbut oleh Malaysia lewat peradilan Internasional
2. Penyebutan warga negara Indonesia dengan kata “Indon” yg dianggap merendahkan bangsa ini.
3. Banyak TKI dianiaya dan dibunuh
4. Pengakuan beberapa Hasil Kebudayaan Indonesia oleh Malaysia, seperti Batik, Lagu Rasa Sayange, Bahkan Angklung, Kuda Kepang, Ronggeng, dan Barongan atau Reog juga dianggap kebudayaan mereka.
5. Perlakuan kejam terhadap warga negara Indonesia oleh RELA (Relawan Rakyat)
6. ketegangan di wilayah Ambalat antara RI dan Malaysia. dll

Well.. saya tidak akan mengomentari itu semua, mari kita mulai melihat dari dalam negeri sendiri.

Indonesia..
Menurut saya pribadi semua masalah itu semua sangat mungkin terjadi dan bahkan mungkin nanti kesenian tradisional ataupun Budaya budaya Indonesia semua bisa “di angkut” kesana. Saya pikir pemerintah Indonesia memang kurang Tanggap terhadap semua hal dan peristiwa yang sudah terjadi, Kita memang kurang menghargai product dalam negeri, kurang menghargai sumber daya sendiri, dan lebih tepat dikatakan kita kurang menghargai diri sendiri.

Contoh yg kongkrit adalah beras. Dulu negara tetangga berguru ke Indonesia cara menanam beras dan membuat beras berkualitas, sekarang apa yg terjadi? Indonesia Import beras dari mereka, sudah begitu dikorupsi lagi. PARAH gak? misal negara kita adalah penemu beras dan satu satunya tempat awal tumbuhnya padi, lalu jika negara lain mematenkan bahwa beras adalah hasil mereka, lalu mau apa kita? kalo kita menyangkal juga malu, bagaimana tidak, kita aja import kok mengaku penemu dan asal muasal beras / padi. Aneh kan jadinya. Begitu juga dengan kesenian tradisional, di negara sendiri orang sudah tidak ada yg peduli, sudah tiadak ada yg memainkan dan melestarikan, lalu kemudian negara tetangga nguri uri kebudayaan tersebut pada akhirnya bilang bahwa itu adalah budaya mereka, lantas bagaimana kita bisa membuktikannya? kalo kita saja sudah tidak melakukan itu semua.

Coba Kita Indonesia berfikir secara realistis, berapa banyak TKI yang bekerja keluar negeri, ke Arab, Qatar, Dubai, Hongkong, Taiwan, Singapura, Malaysia, Brunai dll, Dengan berbekal kasih sayang mereka merantau di negeri orang untuk mengasuh anak orang, dengan berbekal Tenaga dan badan yg kekar mereka merantau untuk menjadi kuli di negeri orang. kenapa mereka merantau? ya karena di negeri sendiri tidak ada lapangan pekerjaan untuk mereka, kalopun ada hasilnya tidak cukup untuk makan.

Bayangkan Berapa banyak Tukang Insinyur yg akhirnya lebih dihargai oleh mereka pihak asing karena kepintaran dan kemampuan mereka, ya karena mereka merasa tidak dihargai di negeri sendiri, tidak bisa hidup dengan gaji yg diberikan pemerintah akhirnya mencoba mengadu nasib di luar negeri, ingat kasus IPTN yg gak jelas sampai sekarang, yg para tukang Insiyurnya akhirnya lebih memilih bekerja diluar negeri. Berapa banyak Pilot Indonesia yg bekerja di luar negeri? antara lain adalah Pilot Pribadi Presiden Khadafi dan Pilot dari Indonesia yg bekerja di Maskapai One-Two-Go dari Thailand yg beberapa waktu lalu tewas kecelakaan di Phuket. dan itu baru beberapa yang diketahui.

Coba Pemerintah kita ini lebih memberdayakan masyarakat sendiri, lebih menghargai para Insinyur lebih menghargai para tenaga kerja dengan memberikan UMR yg tinggi, ya atau paling tidak dengan membuka lapangan kerja di daerah daerah, sehingga mereka akan lebih membangun daerah, bukan membangun negara lain dengan cucuran keringat dan darah.

Mungkin Pemerintah kita terlalu sibuk dengan masalah KKN… terlalu sibuk dengan urusan Politik dan urusan perut sendiri sampai sampai lupa untuk membangun negeri dan mensejahterakan rakyat.. mereka lupa janji janji mereka saat kampanye.. mereka terlalu sibuk untuk mengumpulkan uang sebagai ganti apa yang telah mereka keluarkan saat berkampanye. Mereka juga masih sibuk mengamplopi dan memberi upeti kepada atasan atau pejabat tinggi berharap posisi mereka akan naik, berharap jabatan mereka akan langgeng. Dirjen Pendidikan dan kebudayaan juga kurang tanggap, mereka lebih banyak memikirkan apa yg akan dilakukan besok, tanpa mau menoleh kebelakang apa yg seharusnya mereka kerjakan untuk melestarikan kebudayaan negeri ini.

Banyaknya kasus TKI mati di luar negeri, banyaknya kasus Pemerkosaan dan pelecehan TKI, kenapa Indonesia diam saja? Ya kesannya Pemerintah mengabaikan dan kurang peduli dengan mereka, sepertinya Pemerintah lebih senang menerima devisa dari mereka daripada cepek mengurus seorang dua orang yg mati… mungkin pemerintah akan bilang “toh sudah mati ya mau gimana mana gak bakal hidup lagi”

Kembali ke diri sendiri.. sebaiknya kita memang lebih Instropeksi diri, tidak usah terlalu menyalahkan orang lain, kita cari solusi terbaik kenapa masalah itu bisa terjadi, kita cari cara menanggulanginya dan pemecahannya, bukan dengan kekerasan, bukan dengan menghujat dan menjelekkan tetapi dengan berfikir semula, tarik benang kebelakang.

Malaysia..
Memang banyak pemberitaan yg mengatakan bahwa Malaysia ini kurang menghargai tenaga kerja asing, coba kalo mau sedikit instropeksi, siapa yg membangun Malaysia, siapa yg menyanyangi, mengawasi, anak anak bangsa Malaysia, siapa yang membuatkan makanan pagi untuk mereka. Apa jadinya tanpa mereka semua.

Banyak gedung gedung dibangun oleh kuli kuli dari Indonesia, banyak PRT dari Indonesia disana, banyak pengasuh anak dari Indonesia, apa jadinya jika mereka tidak ada, Misalkan Warga malaysia Harus mengurus rumah tangga di pagi hari, memasak mengurus anak dll.. mereka akan banyak kehabisan waktu, yang seharusnya mereka produktif dalam bekerja jadi tidak produktif, dan lebih banyak mengurus hal hal yg sebenernya bisa di lakukan oleh orang lain (PRT)

Apa jadinya jika Malaysia tidak ada kuli bangunan? siapa yg akan merealisasikan konsep arsitektur mereka yg canggih, tidak mungkin para arsitek dan insinyur akan turun langsung mengaduk semen dan menyusun batako.

Ya kenapa tidak Instropeksi diri, bahwa Malaysia juga membutuhkan PRT dan Kuli dari Indonesia, meskipun dimata mereka itu rendah tetapi mau tidak mau mereka juga membutuhkannya. Tanpa mereka Malaysia tidak akan secanggih sekarang.

Cobalah Malaysia lebih mengajarkan sejarah pada rakyatnya, dimana banyak sekali warga malaysia yang sebenernya adalah keturunan dari Indonesia, Pada jaman dahulu banyak warga negara Indonesia khususnya yg berada dekat dengan malaysia, seperti Sumatra dan Kalimantan, mereka banyak yg mengungsi ke Malaysia saat jaman penjajahan Blanda. dengan kata lain memang Indonesia dan Malaysia adalah serumpun sedarah, jadi tidak perlu bertikai.

Terlebih Indonesia dan Malaysia adalah negara dengan Mayoritas penduruknya adalah Islam, kita semua tahu bahwa sesama Muslim adalah saudara, jadi buat apa bertikai dan saling mengejek?

Ingat pula Firman Allah dalam Surat Al Hujarat ayat 11
Al Hujarat

yang artinya:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

lalu kenapa kita harus saling mengejek dan mencela? Bukankah hal itu sudah jelas jelas dilarang dan sudah diperingatkan oleh-Nya? Apakah yang seperti itu sudah kalian lupakan dan tidak lagi tampak di mata kalian?

kembali ke diri sendiri.. sebaiknya masing masing memang harus saling instropeksi, kalo merasa saudara serumpun maka sudah tentu tidak akan saling menyakiti, pasti tidak ada kata kata ejekan cacian dan makian, apalagi sampai bertikai, Sungguh memalukan bukan?

Indonesia sebagai saudara tua seharusnya bisa mengayomi saudara mudanya yaitu Malaysia, meski saudara muda sukses janganlah ada iri dan dengki, dan Malaysia sebagai saudara muda hendaklah tidak ngelunjak atau sombong atas kesuksesannya daripada saudara tuanya.

Bukankah seharusnya yg kita perangi adalah mereka yg akan merusak kita? bukan saudara yang membantu kita? maka dari itu, tolong kembalilah berfikir dan instropeksi diri, mari kita mulai dari diri sendiri. Semoga padangan saya yang sangat sederhana dan sangat sedikit ini bisa menjadi obat rindu kita akan kedamaian dan akan rasa persaudaraan. Aminn.

bila aku jatuh cinta

Allahu Rabbi aku minta izin
bila suatu saat aku jatuh cinta
Jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang
Hingga membuat lalai akan adanya Engkau

Allahu Rabbi
aku punya pinta
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu yang tak terbatas
Biar rasaku pada-Mu tetap utuh

Allahu Rabbi
izinkanlah bila suatu saat aku jatuh cinta
Pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan
kasih-Mu
dan membuatku semakin mengagumi-Mu

Allahu Rabbi
bila suatu saat aku jatuh hati
Pertemukanlah kami
Berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu

Allahu Rabbi
pintaku terakhir adalah seandainya kujatuh hati
Jangan pernah Kau palingkan wajah-Mu dariku
Anugerahkanlah aku cinta-Mu...
Cinta yang tak pernah pupus oleh waktu

KHUTBAH JUMAT (Membentuk Muslim Sejati)


MEMBENTUK MUSLIM SEJATI
Oleh: Marhadi Muhayar, Lc., M.A









إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ। وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ। أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ। اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ؛
Hadirin sidang Jumat yang dimuliakan oleh Allah Swt…
Selaku khatib Jumat kali ini, izinkanlah saya berwasiat baik bagi diri saya pribadi, maupun bagi hadirin sekalian, untuk selalu meningkatkan keimanan dan ketakwaan diri kita kepada Allah Swt. Lebih dari 50 kali di dalam Al-Quran Allah Swt berfirman: Ittaqullâh, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah! Pengulangan yang teramat sering ini menunjukkan bahwa, takwa sangatlah penting artinya bagi setiap muslim. Karena hanya dengan takwa kepada Allah sajalah, kita akan dapat hidup bahagia, baik di dunia ini maupun di akhirat.

Melalui khutbah Jum’at kali ini, saya ingin menyampaikan sebuah materi tentang bagaimana kiat membentuk diri ini menjadi seorang muslim sejati?

Ma’âsyiral muslimîn rahimakumullâh...
Saat ini, banyak orang mengaku dirinya sebagai muslim. Data statistik dunia terakhir menunjukan ada 1,7 milyar lebih di dunia ini jumlah penduduk dunia yang beragama Islam. Tapi, dari sekian jumlah yang ada itu, sangat sedikit yang memiliki kepribadian sebagai seorang muslim. Selebihnya, mempunyai kepribadian terpisah (split personality). Orang semacam ini agamanya saja sebagai muslim, namun, perilaku, sikap, dan tindakannya sama sekali tidak menunjukkan keislamannya. Kalau demikian adanya, bagaimana Islam dapat menjadi rahmah? Jika para pemeluknya tidak memahami, menghayati dan mengamalkan Islam? Persis seperti apa yan telah disinggung oleh rasulullah Saw:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ (سنن أبي داود: 3745)

Rasulululullah Saw bersabda: “suatu saat nanti kalian akan dikeroyoki oleh berbagai suku bangsa seperti mereka mengeroyoki makanan”. Salah seorang bertanya: “Apakah kami saat itu minoritas ya Rasululullah?” “Tidak”, jawab Rasulullah, “bahkan kalian saat itu mayoritas, tetapi hanya bagai busa. Allah hilangkan rasa takut di hati musuh-musuh kalian dan Allah tumbuhkan di dalam hati kalian kehinaan! Lantas ada yang bertanya: “Kehinaan bagaimana ya Rasululullah?” Nabi pun menjawab: “cinta dunia dan takut mati”.

Lihatlah kondisi masyarakat kita saat ini yang berada dalam keadaan lemah, hina, rendah diri, terbelakang, dan ditimpa berbagai krisis maupun perpecahan. Lengkap sudah segala penderitaan yang ada, berbagai simbol negatif pun tersematkan di dada-dada bangsa kita, bangsa yang tidak beradab dan tidak bermoral! Padahal dahulu Indonesia di kenal sebagai bangsa yang sangat santun dan welas asih! Mengapa ini bisa terjadi? Nyawa manusia lebih rendah harganya dari sekarung beras. Hanya karena gara-gara dituduh mencuri uang sepuluh ribu rupiah, seseorang dapat menemui kematiannya. Atau hanya karena sepedanya dipinjam tanpa ijin, seseorang berani membunuh kawan sekerjanya sendiri. Di mana-mana kerusakan merajalela, kebodohan, dekadensi moral dan hal-hal negatif lainnya. Indonesia telah mengalami krisis diberbagai aspek kehidupan, krisis multi dimensial!

Kondisi semacam ini tidak mungkin terus menerus dibiarkan. Siapapun yang merasa sebagai muslim yang memiliki ghirah (semangat) keislaman, tidak akan merelakan hal ini. Agama kita bukan agama fardiyah (individual), tetapi agama pemersatu (ummatan wahidah), bahkan satu jasad. Jika sakit salah satu anggota tubuh, maka yang lain akan merasakannya. Islam bukan hanya agama ibadah. Tetapi merupakan the way of life (jalan hidup) yang paripurna, mengatur segala urusan dunia-akhirat. Agama kita mengajak kepada wihdah (persatuan), al-quwwah (kekuatan), al ‘izzah (harga diri), al-‘adl (keadilan), dan juga kepada jihad (perjuangan).

Maka, misi risalah Islam yang rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam) ini bertujuan untuk memberikan hidayah (petunjuk) manusia pada agama yang haq, yang diridhoi Allah. Fungsi Islam yang menyejukkan bagi seluruh umat manusia ini, tidak mungkin terwujud, kecuali jika benar-benar diamalkan oleh orang-orang yang memiliki kepribadian, atau mempunyai jati diri sebagai seorang muslim. Karenanya, semua itu pasti berawal dari diri, lalu keluarga, masyarakat dan lingkungan.

Sebagaimana kita tahu, hidup merupakan suatu perjalanan dari satu titik ke titik yang lain, beranjak dari garis masa lalu, melewati masa kini, untuk menuju masa depan. Masa lalu adalah sebuah sejarah, masa kini adalah realita dan masa yang akan datang adalah cita-cita. Sebagai seorang muslim, tentunya kita tidak akan membiarkan hidup ini sia-sia. Hidup di dunia ini menjadi terlalu singkat jika hanya dipenuhi dengan keluhan-keluhan, kegelisahan, rasa pesimis dan angan-angan. Jiwa-jiwa seperti itu,tidak mencerminkan jati diri seorang muslim sejati. Rasulullah Saw bersabda:

“Seorang muslim tidak akan pernah ditimpa kecuali kebaikan, apabila ditimpa kejelekan ia bersabar, dan jika dilimpahkan kenikmatan ia bersyukur.”

Seorang Muslim tidak akan pernah mengeluh menghadapi kehidupan, karena ia telah memiliki kepribadian yang utuh dalam menghadapi segala macam ujian hidup.

Untuk menjadi pribadi muslim sejati, sesuai dengan apa yang digariskan oleh Islam, sudah semestinya memiliki sifat-sifat yang sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan Al-Hadits, juga telah dipraktekkan oleh para Sahabat Nabi maupun salafus shâleh, yaitu pribadi yang sikap, ucapan dan tindakannya terwarnai oleh nilai-nilai yang datang dari Allah Swt dan rasul-Nya. Nilai-nilai tersebut, jika disederhanakan, setidaknya ada sepuluh sifat yang mesti melekat di dalam diri seorang muslim:

1. Salâmatul ‘aqîdah (Keyakinan yang benar)
Hidup di dunia ini bagai orang yang tengah mengadakan suatu perjalanan. Coba anda bayangkan, seandainya dalam suatu perjalanan anda tidak mengetahui arah mana yang akan anda tuju. Di terminal bus, di dermaga, atau di bandara, anda terduduk sambil bertanya hendak kemanakah diri ini harus pergi? Apa yang akan terjadi? Sudah bisa dipastikan anda akan mudah tersesat. Mengapa? Karena anda tidak mempunyai keyakinan pasti untuk sampai kepada suatu tujuan. Demikian halnya dengan perjalanan seorang muslim di dunia ini, dia harus mempunyai keyakinan yang lurus, sebagai sarat untuk dapat sampai kepada tujuannya.

Ada enam hal yang membuat seorang muslim yakin terhadap tujuan perjalanannya. Iman (yakin) kepada keberadaan Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Hari akhir, dan Qadla-Qadar. Sebagaimana Sabda nabi Saw:

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَأَخْبِرْنِي عَنْ الْإِيمَانِ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

“Nabi Saw bertanya kepada Jibril As:”Beritahukan aku tentang iman? Jibril menjawab: “Kamu beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab yang telah diturunkan-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari kiamat, dan kamu beriman kepada takdir yang baik maupun buruknya”.

Keyakinan terhadap Allah membuat Muslim selalu dalam keadaan optimis akan pertolongan-Nya. Yakin terhadap Malaikat membuat Muslim menyadari bahwa makhluk Allah yang paling taat ini, akan selalu mencatat segala perbuatannya di dunia, sehingga amal perbuatan Muslim selalu dipenuhi dengan hal-hal positif. Yakin terhadap kitab, membuat muslim selalu membaca panduan hidupnya setiap saat. Yakin terhadap Rasul, membuat Muslim memantapkan langkahnya hidup di dunia, bahwa Allah tidak meninggalkannya tanpa pemandu perjalanan yang panjang ini. Yakin terhadap hari akhir, membuat muslim tahu akan tujuan akhirnya. Iman kepada qadla dan qadar membuat muslim menyadari akan tanggung jawabnya hidup di dunia, sehingga tidak terjatuh pada keyakinan jabariyah atau keyakinan qadariyah.

2. Shihhatul ‘Ibâdah (Ibadah yang benar)
Anda sekarang sudah yakin dengan perjalanan yang sedang anda lakukan ini. Tinggal bagaimana anda harus melaluinya dengan baik, sehingga tidak tersesat. Karenanya, ibadah adalah implementasi dari sebuah keyakinan. Yang perlu kita sadari adalah, bahwa ibadah dalam Islam bukanlah merupakan taklif (pembebanan), melainkan tasyrif (pemuliaan) dari Allah Swt. Ketika seorang manusia dijuluki oleh Allah ‘ibadullah, maka ia termasuk orang-orang yang dikasihi-Nya.

Ibadah dalam Islam bukan hanya mencakup ritual keagamaan semata, semisal: shalat, zakat, puasa dan haji, tetapi semua lini kehidupan di dalam memakmurkan dunia ini yang tidak bertentangan dengan landasan Al-Quran dan Sunnah, semisal mencari nafkah secara halal, berhubungan baik dengan keluarga, menuntut ilmu dan lain sebagainya. Sebagaimana firmannya:

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (الجمعة: 10)

“Jika shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung”.

Demikianlah, seorang Muslim harus memahami arti ibadah dengan benar. Ibadah yang benar lahir dari aqidah yang benar. Ibadah yang benar adalah ibadah yang membawa pengaruh bagi dirinya, orang lain dan melahirkan ketaqwaan.

3. Matînul Khulûq (Akhlaq yang kokoh)
Memang, menjadi orang baik itu sulit, namun amat mudah bagi yang memiliki tekad dan kemauan. Awal dari segala sesuatu itu susah. Namun, jika anda sudah terbiasa, anda tidak akan pernah mengatakannya sulit. Ingatkah Anda ketika pertama kali anda belajar naik sepeda? Mungkin anda pernah berfikir, bagaimana caranya menjalankan sepeda yang hanya mempunyai dua roda. Pertama yang anda lakukan adalah duduk di sadel, menurunkan kedua kaki di tanah, dan tangan memegang kendalinya. Semuanya berjalan dengan baik. Lalu, salah satu dari anda mulai untuk menggenjot sadel di satu sisinya. Anda gugup, baru beberapa meter, anda kehilangan kendali dan ups… terjatuh.

Setelah beberapa kali mencobanya, anda sudah mulai terbiasa memegang kendali, menjaga keseimbangan dan menggenjot pedal dengan nyaman. Anda sudah lupa, kesulitan pertama kali menjalankannya, dan ternyata naik sepeda itu nikmat. Demikianlah, ketika anda berlatih mengendalikan diri, membiasakan dengan hal-hal yang baik, dan menjauhi sikap-sikap yang tidak berguna. Semakin dibiasakan, perilaku itu keluar dengan sendirinya secara otomatis. Inilah yang disebut akhlaq, yaitu perilaku yang keluar secara otomatis, dan mencerminkan ekspresi diri seseorang di segala tempat dan waktu. Jadi, akhlaq bukanlah perilaku kondisional, yang hanya diekspresikan pada waktu-waktu tertentu saja, tetapi memiliki akhlak yang komit, tidak fluktuatif, dan tidak berubah dalam kondisi bagaimana pun. Allah Swt berfirman:
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ (القلم: 4)
"Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung". (QS. Al-Qalam :4)

4. Tsaqôfatul Fikr (Wawasan pengetahuan yang luas)
Menjalani kehidupan di dunia ini tidak hanya sekedar mengandalkan keyakinan, ibadah dan akhlaq. Siapapun orangnya, ketika sedang melakukan perjalanan pasti membutuhkan pengetahuan tentang apa yang sedang ia tuju. Ketika anda hendak beranjak ke Kairo, misalnya, anda tentu mencari informasi tentang kondisinya, cuacanya, budayanya, makanannya, dan hal-hal lain yang perlu anda persiapkan sejak dini. Dengan informasi itulah anda mampu mengira-ngira apa yang dapat anda kerjakan sekarang, untuk persiapan nanti.

Begitu pula halnya dengan kehidupan yang sedang kita jalani ini. Anda tentu membutuhkan informasi-informasi yang diperlukan dalam melanjutkan perjalanan hidup. Wawasan itulah yang akan memandu perjalanan hidup anda. Proses yang sedang anda jalani dalam hidup ini juga tidak lepas dari pengalaman-pengalaman yang akan menjadi guru terbaik bagi anda. Allah Swt berfirman:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ (الزمر: 9)

“Katakanlah: “Apakah sama antara orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesunguhnya hanya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”.

Karenanya, bagi seorang muslim, mencari ilmu pengetahuan merupakan salah satu kewajiban.

5. Quwwatul Badân (Tubuh yang kuat)
Kesempurnaan itu dambaan setiap orang. Masing-masing akan mencoba mencapai kesempurnaan diri, sesuai dengan kemampuannya. Dengan kekuatan itulah setiap orang akan berusaha mencapai keseimbangannya. Seahli apapun anda mengendarai sepeda, jika ban di rodanya kempes, tentu anda tidak akan dapat berbuat banyak, hingga ban itu baik kembali.

Karenanya, persiapkanlah jasmani Anda sebaik mungkin untuk dapat melanjutkan perjalanan anda secara vit dam prima. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat dan kuat. Apalagi berjihad di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya. Nabi bersabda:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ (مسلم وابن ماجه وأحمد)

"Mukmin yang kuat adalah lebih baik dan lebih aku cintai daripada mukmin yang lemah”. (HR. Muslim, Ibnu majah dan Imam Ahmad)

Oleh karena itu, kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Namun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi.

6. Al-Qudrah ‘ala al-Kasbi (Mampu mencari nafkah)
Sekarang, anda sudah sedikit-banyak, mengerti tentang bagaimana seharusnya menempuh perjalanan hidup ini. Sebagaimana seseorang yang sedang dalam perjalanan, anda harus mempunyai dua bekal. Pertama, bekal persiapan untuk tujuan akhir nanti setelah sampai tujuan. Yang kedua, bekal dalam perjalanan.

Nah, begitu pula di dunia ini. Hidup di dunia adalah suatu perjalanan, tujuan kita adalah akhirat. Namun, persiapan bekal untuk akhirat, tidak menutup kita untuk mempersiapkan bekal dalam perjalanan hidup di dunia ini untuk diri sendiri dan keluarga. Rasulullah pernah mengingatkan kita untuk bisa menyeimbangkan antara keduanya. “Bekerjalah untuk duniamu, seakan-akan kau akan hidup selamanya. Dan beramal buat akhiratmu, seakan-akan kau akan menemui ajal esok pagi.”

Agama kita melarang umatnya untuk bersikap santai, bermalas-malasan dan bertopang dagu. Para sahabat mencontohkan, jika terdengar adzan maka mereka segera ke masjid, jika selesai melaksanakan kewajibannya maka mereka kembali bertebaran di muka bumi untuk kembali melanjutkan usahanya sambil berdoa,”Ya Allah, kami telah memenuhi panggilan-Mu dan telah melaksanakan apa yang telah Engkau wajibkan, sekarang kami menyebar (berusaha) sebagaima Engkau perintahkan, maka berilah kami rizki karena Engkaulah sebaik-baik Pemberi Rizki.

7. Nâfi’an li Ghairihi (Bermanfaat bagi lainnya)
Banyak orang yang menyangka, bahwa keberhasilan adalah semata-mata kesuksesan yang diperoleh seseorang secara individu. Kita akan merasa bangga telah berhasil memperoleh gelar sarjana, majister, atau bahkan doktor. Atau kita merasa bangga telah memperoleh keuntungan bermilyar-milyar, masuk dalam kantong sendiri. Benarkah itu yang disebut keberhasilan dalam pribadi seorang Muslim?

Seorang muslim yang berhasil adalah yang mampu menjadi pelita bagi sekelilingnya. Ia mampu menerangi keluarga dan masyarakatnya, dengan sikap, perilaku, ilmu, harta, dan amal nyata. Pantulan dirinya sebagai muslim benar-benar dirasakan, sehingga dapat menebar kesejukan orang-orang yang bersamanya. Sebaik-baik muslim adalah yang bisa memberi manfaat bagi orang lain. Relevan dengan sabda Rasulullah Saw:

خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ وَشَرُّكُمْ مَنْ لَا يُرْجَى خَيْرُهُ وَلَا يُؤْمَنُ شَرُّهُ (رواه أحمد)

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang selalu diharapkan kebaikannya dan aman dari kejahatannya, adapun seburuk-buruk kalian adalah orang yang tidak diharapkan kebaikannya dan tidak aman dari kejahatannya.” (HR. Ahmad)

8. Hârisan ‘ala waqtihi (Mampu mengatur waktu)
Allah SWT banyak bersumpah di dalam Al Qur'an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan seterusnya.

Banyak masalah yang timbul, karena seseorang tidak mampu mengatur waktunya dengan baik. Ia tidak bisa mencapai target dari rencana. Ia kehilangan beberapa momen penting, hanya karena waktu yang telah berlalu begitu saja di hadapannya. Untuk itu, pribadi Muslim selalu siap dengan situasi dan waktu. Ia dapat mengatur seberapa banyak waktu untuk beribadah mahdhah, dan untuk bermu’amalah. Semuanya perlu diatur sehingga seimbang.

Waktu adalah kehidupan, sehingga orang yang tidak bisa mengatur waktu akan kehilangan momen hidupnya, bahkan bisa tergilas dengan waktunya sendiri. Sebagaimana pepatah Arab mengatakan:

الوقت كالسيف فإن لم تقطع به فإنه قطعك!

“Waktu itu bagaikan sebilah pisau, jika tidak kamu gunakan untuk memotong, niscaya ia yang akan memotongmu!”

Sehingga seorang muslim tidak akan menjadi manusia yang merugi sebagaimana yang disinyalir dalam QS. Al Ashr:1-3.

9. Munâzhzhoman fi syu’ûnihi (Mampu mengatur urusannya)
Hidup kita di dunia ini penuh dengan berbagai aktifitas yang luar biasa banyaknya. Karena itu, sebagai seorang muslim harus pandai untuk memilah dan memilih, mana saja aktifitas yang sesuai dengan pandangan hidupnya sebagai seorang muslim berdasarkan skala prioritas. Karena pada prinsipnya, tugas atau kewajiban itu lebih banyak daripada waktu yang tersedia.

Dengan kata lain, suatu urusan mesti dikerjakan secara profesional. Apapun yang dikerjakan, profesionalisme harus selalu diperhatikan. Nabi bersabda:

10. Mujâhidan linafsihi (Berjuang melawan hawa nafsu)
Mujâhadatunnafs merupakan salah satu upaya yang mesti bagi setiap pribadi muslim, karena setiap manusia memiliki kecenderungan kepada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya tekad dan kesungguhan. Karena hawa nafsu adalah sebesar-besarnya jihad di dalam Islam, seperti apa yang telah dikatakan oleh Sayidina Ali Karamallahu wajhah sepulangnya dari peperangan Badar Al-Kubra yang dahsyat dengan mengatakan masih ada jihad yang lebih besar lagi daripada peperangan yang baru saja berlalu. Dalam kesempatan lain Nabi Saw mengatakan:
لا يؤمن أحدكم حتي يكون هواه تبعا لما جئت به (رواه احاكم)
"Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran Islam)". (HR. Hakim)

Demikianlah sepuluh sifat yang harus dimiliki oleh setiap muslim agar menjadi muslim sejati sebagaimana yang digariskan oleh Al-Quran dan Sunnah. Hal tersebut tidak akan kita miliki, kecuali dengan amal usaha yang sungguh-sungguh, melalui pendidikan dan pengarahan yang intensif secara berkesinambungan dan kontinyu, hingga akhir hayat kita. Orang yang memiliki kesepuluh sifat ini, insya Allah dapat diandalkan dalam memikul Misi Risalah Islam. Dengan kesepuluh sifat ini, Islam akan benar-benar memancarkan rahmatan lil ‘alamin..
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua


الحمد لله الملك الوهاب، الجبارالتواب، الذي جعل الصلات مفتاحا لكل باب، فالصلاة والسلام علي من نظر الي جماله تعالي بلا سطر ولا حجاب وعلي جميع الآل والأصحاب وكل وارث لهم الي يوم المآب. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لا نبي بعده. أما بعد.
Hadirin sidang Jum’at yang dimuliakan oleh Allah Swt...
Saat ini, ummat sangat membutuhkan pribadi-pribadi yang dapat menyelamatkan mereka dari kebingungan, keterpecahan dan keterpurukan. Siapa lagi kalau bukan anda? Diharapkan kita semua menjadi orang yang dapat menyelesaikan masalah, bukan malah sebaliknya, menjadi orang yang bermasalah atau suka bikin masalah !?

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَارْضَ عَنْ سَادَاتِنَا أَصْحَابِ رَسُوْلِكَ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَي يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ. اَللَّهُمَ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ وَآمِنْهُمْ فِيْ أَوْطَانِهِمْ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.وَأَقِمِ الصَّلاَةِ!